Flag Counter

Kamis, 26 September 2013

Mandi Badudus (adat mandi pengantin orang banjar)

Mandi Badudus.
Mandi Badudus merupakan ritual adat masyarakat suku banjar untuk mensucikan diri calon pengantin. Ritual mandi badudus dilakukan pada waktu pagi hari menjelang acara persandingan siang, pengantin wanita melangsungkan acara mandi – mandi pengantin dengan air yang ditaburi macam – macam bunga dan air jeruk yang dilengkapi dengan mayang pinang dan air kelapa gading. Prosesi badudus dilakukan setelah bapingit dua atau tiga hari sebelum upacara perkawinan. Upacara tersebut dilaksanakan boleh serentak oleh kedua mempelai atau di rumah mereka masing- masing. Jumlah bunga – bunga yang diperlukan lebih banyak dan lebih berkesan sebagai salah satu upacara. Acara mandi badudus dilakukan oleh lima atau tujuh orang orang wanita tua yang telah berpengalaman, yang umumnya dipimpin oleh seorang bidan kampung atau wanita tua lainnya dari keluarga dekat.
Rangkaian prosesi ini diwarnai dengan beragam detail perlengkapan dan dekorasi berwarna kuning, seperti : Pada “lalangitan” berupa kain kuning yang dibentangkan pada bagian atas lokasi berlangsungnya prosesi. Warna kuning menurut kepercayaan masyarakat suku banjar selain sebagai simbol kebesaran dan keluhuran juga dipercaya dapat menjadi “alat” untuk pagar dari roh jahat. Dengan demikian mempelai juga memakai kain sarung yang juga berwarna kuning.
Kemudian dibentang selembar permadani atau tikar yang mana di atasnya ditaruh empat puluh satu kue tradisional khas banjar, antara lain : bubur habang, bubur putih, apam habang, apam putih, cucur, wajik, gegeplak, kukuleh (mirip bubur sum-sum), kue cincin, laketan (jadah), gayam, wadai gincil dan lain-lain. Sedangkan untuk air mandi terdiri dari air yasin, air kembang dan air kelapa gading muda. Kue-kue dan air kelapa tersebut sebelum dihadapi oleh pengantin terlebih dahulu disembahyangkan oleh tetuha  secara khusuk.
Selanjutnya pengantin dengan diiringi para tamu dihantar ke tempat “Balairung Padudusan” ( rumah-rumahan segi empat berukuran 2x2 m ) yang dihiasi  dengan pagar mayang, hiasan janur di setiap empat sudutnya. Sebelum memasuki Balairung Padudusan, pengantin terlebih dahulu harus mengelilingi Balairung tersebut dengan diiringi para tetuha yang akan menaburi beras kuning ke arah mempelai. Setelah itu barulah mempelai memasuki balairung padudusan, dan disuruh duduk yang kemudian dimulai ritual mandi-mandi. Diawali oleh yang tertua satu demi demi satu air diguyur ke tubuh mempelai yang kemudian diakhiri dengan guyuran air kelapa perlahan dimulai dari kepala. Apabila air kelapa tersebut meluncur melewati mulut, maka pengantin harus bisa menelannya. Menurut kepercayaan orang-orang tua masyarakat suku banjar, kelak kehidupan mempelai semanis seperti air kelapa muda tersebut.
Setelah selesai mandi, kemudian mempelai segera mengganti basahan dengan sarung kering.Selanjutnnya mempelai kembali ke tikar yang dipenuhi kueh-mueh. Salah seorang tetuha secara simbolis menyisir rambut, memberi bedak, dan diakhiri dengan memegang cermin disertai lilin yang menyala untuk diputar beberapa kali disekeliling pengantin. Harapannya supaya perjalanan kehidupan pengantin kelak seterang cahaya lilin.
 Sebagai ritual penutup, nenek mempelai ( boleh diwakilkan tetuha lain dari keluarga dekat ) secara simbolis akan memotong rambut mempelai. Pengantin wanita disuruh “manjajak hantalu” ( menginjak telur ayam ) sampai pecah dengan ujung tumit. Ketika itu juga pengantin wanita tersebut dicukur yaitu dengan istilah ‘Balarap’, membuat cecantung pada kiri kanan wajahnya. Kemudian pengantin mencicipi “wadai-wadai” (kue-kue) bersama para tamu yang hadir pada saat itu.
Ritual adat mandi badudus juga disertai oleh perlengkapan yang sarat akan makna-makna, seperti tebu kuning yang melambangkan agar kehidupan rumah tangga selalu manis dan teguh, daun beringin sebagai lambang pengayoman, daun kambat sebagai penolak bala, daun linjuang sebagai penolak setan atau hantu, ketupat berbentuk burung agar pengantin bisa terbang tinggi mencapai harapan rumah tangga. Pagar mayang melambangkan sebagai pembawa keberuntungan dan penangkal segala yang buruk.





Note : Kritik dan saran yang sifatnya baik dan membangun sangat saya harapkan. Silahkan tulis komentar pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar