Flag Counter

Rabu, 05 Juni 2013

Cerpen Tentang Lingkungan


Kabut Pucat

By Salasiah

 Dari kejauhan ku lihat kabut menyelimuti dataran basah itu dan matahari pagi memancarkan cahayanya yang berkilau menerpa jendela dan gedung-gedung kaca, tanpa disadari aku melangkah bagai mimpi ke tempat itu, lalu duduk dibawah pohon Akasia tua. Di sekelilingku tampak bunga-bunga kecil yang tumbuh bagai sekumpulan peri-peri kecil dan kurcaci yang bersinar, yang ditemani oleh beraneka dedaunan kering yang terbaring dengan lekukan tak beraturan.
Lalu mataku menerka lebih jauh, kulihat tempat di ujung sana sangat jauh berbeda, hiruk pikuk kendaraan yang tiada hentinya melaju di jalan meninggalkan kepulan asap-asap karbondioksida membuat polusi udara. Bisingnya suara-suara dari knalpot kendaraan bermotor memekakan telinga. Aku melihat sekeliling, ternyata tempatku berada hanyalah taman kecil diantara gedung-gedung pencakar langit.
Aku menghela nafas panjang, wangi bunga-bunga melati yang tadinya terhendus hidung kini berganti dengan aroma busuk menyengat. Aku bangkit dari tempat ku dan melangkah tapak demi tapak menyusuri trotoar berharap dapat menghirup udara pagi, tetapi semakin jauh aku melangkah semakin tajam aroma tak sedap menusuk hidungku.
“ Akh…sampah.” Aku bergumam.
Tepat di tepi trotoar aku berdiri, ku lihat tumpukan sampah bertimbun dan membentuk gunung kecil bagai rumah hunian hantu. Aku bergegas berlalu dari tempat itu, tetapi beberapa meter aku melangkah ku lihat lagi tumpukan sampah. Kenapa sampah selalu jadi permasalahan?apakah tidak ada penanganannya? Yah..itu hanya pertanyaan klasik, eksploitasi lahan untuk pembangunan perumahan dan gedung-gedung. Lalu ke mana membuang sampah? Solusi akhir adalah aliran air seperti sungai. Akibatnya, banjir.
Aku termenung sejenak sembari memperhatikan beberapa batang pohon akasia dari jendela. Sinar matahari yang mulai panas menerawang di celah daun-daun itu. Tetapi seolah pohon akasia itu bergumam :
“Mereka telah merampas lingkungan kita yang asri, mengambilnya tanpa harus menggantinya itulah yang mereka pikirkan”
Ya mereka memang tidak mengganti dengan hal yang lebih baik, tapi mereka menggantinya dengan pagar-pagar beton, tidakkah mereka sadari? Walau diam, tetapi sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis, meratapi polusi-polusi yang datang untuk membunuh mereka. Bahkan es di kutub telah  mencair, tak ada lagi tempat tinggal bagi pinguin dan beruang kutub pada saat ini. Tak mengherankan mereka tinggal kenangan keragaman satwa di ensklopedia.
Berbagai bencana alam yang datang adalah bukti kemurkaan mereka, untuk mengingatkan pada kita tentang anugerah Yang Maha Kuasa, bukankah itu artinya kita berutang budi pada alam?
 Ingatkah beberapa tahun silam, ketika kampanye ketahanan iklim sedang digembar – gemborkan, ketika pemborosan energi telah terjadi, ketika pemborosan tersebut sekaligus memberikan efek rumah kaca pada langit akibat gas pembuangan yang mengapung di atmosfir memberikan efek rumah kaca terhadap daratan sejuta umat manusia di dunia.
“Bagaimana mengembalikan bumi ini menjadi surga kembali, tanpa harus ada yang berubah tapi akan membuatnya terasa berbeda?”.
Janganlah menjadi manusia yang egois, alam ini bukan hanya milik generasi kita, masih ada generasi – generasi selanjutnya yang ingin merasakan kesejukan pepohonan, jangan ditebang sembarangan, masih akan ada generasi yang ingin merasakan udara pagi yang sejuk nan teduh, jangan cemari dengan asap kendaraan. Masih ada generasi yang ingin merasakan keramahan hujan disaat musim panas, Masih ada generasi yang ingin menikmati iklim yang stabil, bukan panas yang tinggi yang bergantian dengan badai serta banjir yang melanda, akibat curah hujan yang menggila.

7 komentar: