Flag Counter

Kamis, 06 November 2014

Cerpen Galau Tentang Cinta yang tak tersampaikan (Terpendam)

CINTA TAK TERSAMPAIKAN

Cinta adalah sebuah kata yang semua orang pasti tau dan pernah mengucapkan, merasakan dan mengalami. Cinta bukan hal baru, cinta sudah ada ketika manusia pertama dilahirkan. Cinta yang paling bahagia ketika cinta tersampaikan dan berbalas cinta, serta kasih sayang yang menyertai. Namun cinta yang menyakitkan ketika cinta tak berbalas yang sering disebut “ Cinta bertepuk sebelah Tangan “, namun cinta tak berbalas lebih baik daripada cinta yang tak tersampaikan dan terpendam. Mungkin orang-orang yang naïf akan mengaku tidak pernah mengalaminya, namun secara tidak sadar mereka mungkin pernah mengalaminya. Cinta tak sesuai harapan dan cinta tak berbalas kadang kala cenderung menimbulkan tragedi, yakni tragedi  tragis  karena penyesalan yang dia sendiri tidak tahu apa yang disesalkan.

Aku termenung memandangi layar Laptop ku, berkali-kali aku menulis beberapa ide tulisan namun selalu berakhir pada kegagalan, aku menekan backspace pada keyboard laptop ku. Begitu mudahnya aku menghapus tulisan yang awalnya begitu menarik dan jari-jari ku bersemangat mengetiknya. Ah..sangat mudah aku menghapusnya hanya dengan menekan Backspace. Ku pandangi layar laptop dengan tampilan blank yang sama sekali berbeda dengan kepala dan pikiran ku yang selalu Spenuh.

“Seandainya ingatan dan pikiran ku ke dia bisa dihapus hanya dengan menekan Backspace mungkin aku tak selarut ini mengenangnya.”Aku berandai.

Aku kadang iri dengan teman ku yang beda usia hanya satu tahun dari ku, sepertinya begitu mudah dia mendapatkan orang yang dia taksir 180 derajat kebalikan dari aku.

“Akhirnya kamu jadian juga dengan Bena ya.”Ujar ku pada Nana sepulang kuliah.

“Ya gitu deh, ntar lah aku traktir kamu. Malam ne aku mau jalan dulu.” Sahut Nana dengan senyum kebahagiaan.

Aku tersenyum bahagia menatap kepergian Nana, punggungnya seakan mengekpresikan bagaimana perasaannya saat ini.

“Brukkk”

Tas di pundak ku terjatuh dari lengan ku, baru ku sadari bahwa seseorang tak sengaja menabrak ku. Yah..adegan nya kurang lebih seperti di FTV yang sering aku lihat di TV, si cowok tak sengaja nabrak cewek dan buku si cewek berantakan kemudian si cowok bantu mungut terus ketika mata mereka bertatapan dengan emot slow  timbulah benih cinta dan akhirnya mereka jadian. Sejujurnya aku bosan dan kesal terkadang ketika nonton sinetron, drama, ftv yang ceritanya sepertinya gampang sekali mencintai dan dicintai.

“Maaf Er, aku tadi buru-buru mau ke rapat BEM hari ini.”Ujar si cowok penabrak membuyarkan lamunan ku.

“Emank rapatnya udah mulai ya?”Tanya ku pada cowok di depan ku.

“Udah, barusan Aldi SMS. Kamu kok juga masih di sini?”si cowok memandang ku heran.

“Hmm..nih aku juga mau ke sana.” Ujar ku sekenanya lalu berjalan mendahului si cowok.

Ahmad Lufi itulah nama asli cowok yang sering mengganggu pikiran dan hati ku, aku kenal dia ketika pengenalan mahasiswa baru oleh Fakultas 2 tahun silam. Aku telak jatuh hati padanya kala itu. Aku masih ingat ketika awal kuliah, perlakuan yang spesial oleh senior pada mahasiswa baru begitu spektakuler. Aku begitu kesal ketika menyandang status Mahasiswa Baru (Maba) yang masih polos, lugu, serba gak tau de el el. Di saat itulah hadir sosok senior yang pertama kali menggeparkan hati ku. Bang Lufi paggilan akrab ku pada senior itu.
Di ruang rapat aku memandang satu demi satu para politisi dan aktivis berbicara dengan serius, namun tidak satupun pidato mereka masuk ketelinga ku. Aku lihat bang Lufi duduk bersila dengan mata antusias fokus dengan topik rapat. Aku tak berhenti melihatnya, sesekali aku lihat dia memandangi BB dan terkadang kulihat dia tersenyum mengetik di keypad BB nya yang secara spontan membuat aku cemburu  tanpa alasan.

Cinta tak tersampaikan dan cinta terpendam kemudian berakhir tragis pada kekecewaan mendalam. Aku sadar apa yang ku rasakan saat ini, aku telak bertahun-tahun jatuh hati pada bang Lufi dan sampai detik ini tidak seorangpun yang tahu akan perasaan ku ini. Aku takut mengungkapkan, aku terlalu takut kecewa, aku terlalu takut jika bang Lufi tahu nantinya dia menghindari ku. Aku terlalu takut kehilangannya meskipun aku harus sesakit ini menanggung cinta yang tak pernah tersampaikan ini.

“Er, Rima nolak aku pas aku nembak dia kemaren.”Aldi curhat sambil berbisik ketika dosen filsafat menjelaskan teori.

“Oya, terus kamu gimana?”Komentar ku berusaha tak membuat sohib ku tidak tertekan.

“Gimana apanya?mau gimana lagi?Ya mungkin saat ini aku gak jodoh sama dia.”Sahut Aldi enteng.

Aku lihat kilatan mata Aldi yang penuh kekecewaan. Aku tahu Aldi sudah lama menyukai Elsa mahasiswi Biologi yang juga teman ku di BEM. Aku kembali merenung dan ingin sekali mengacungkan jempol pada sohib itu akan keberaniannya. Terkadang aku berfikir seperti wanita zaman batu bahwa cewek itu hanya boleh menyukai dan cowok lah yang mengungkapkan.

AKU UDAH LAMA NAKSIR KAMU. MAU GAK JADI PACAR AKU?. KAMU KAN JOMLO?

Sebuah tulisan dengan tinta biru di secarik kertas binder yang entah darimana datangnya jatuh tepat di meja ku.

“Bacakan di depan.”Perintah pak Win sang dosen filsafat pada ku yang tanpa ku sadari sudah berdiri di samping ku.

Kaki ku lemas seakan tak mampu menumpu berat badan ku yang hanya 43,5 kg ini, aku malu, kesal, marah dan bingung mengapa saat ini aku dipermalukan dosen filsafat hanya karena secarik kertas yang jatuh di meja ku.

“Pak, aku gak tau ini punya siapa.”Aku membela diri sebisa ku.

“Kamu duduk di sana sejak kapan?”Tanya pak Win membingungkan ku.
“Dari awal bapak masuk, pak.”Jawab ku berusaha tenang.

Ketika seluruh mata tertuju pada ku. Saat itu aku merasa seakan aku berdiri di atas panggung, di sekeliling ku personil Super Junior meandangi ku dengan aneh karena aku di panggung tanpa memakai sendal dan wajah amburadul. Kalaupun Suju memandangi ku pada kondisi saat itu pasti aku masih pede untuk ngajak foto selfi, tapi saat ini kondisinya berbeda karena saat ini yang membuat aku sangat malu bukan teman-teman ku tapi bang Lufi secara bersamaan berada di ruang kuliah karena butuh tanda tangan pak Win. Ku lihat bang Lufi juga memandangi ku dengan penuh tanda tanya. Aku tak ingin membuat kumat darah tinggi pak Win, aku bergegas ke depan ruang kuliah. Aku berdiri membelakangi layar infokus sehingga display di papan tulis haya gelap oleh punggung ku. Tangan ku bergetar memegangi secarik  kertas bencana bagi ku saat itu.

“Ayo baca.”Perintah pak Win. Sempat ku lirik bang Lufi yang berdiri tak jauh dari meja pak Win. Mulut ku seakan kelu untuk membaca tulisan di kertas itu.

AKU UDAH LAMA NAKSIR KAMU. MAU GAK JADI PACAR AKU?. KAMU KAN JOMLO?”

Seisi ruang kelas heboh dengan ledakan tawa teman-teman ku, dada ku sesak, jantung ku seakan berhenti berdetak. Aku seakan tak mampu melepaskan karbondioksida dan menghirup oksigen saat ini. Aku bukan marah pada teman ku yang tertawa, saat kondisi sekarat itu sempat saja mata ku melirik bang Lufi yang entah aku salah lihat atau tidak dia sama sekali tidak tertawa. Ku lihat hanya bingung, sepenglihatan ku seakan kalimat yang ku baca itu tertuju padanya dan menusuk tepat di jantungnya dan dia tak bernayawa lagi. Tapi mungkin itu hanya penglihatan ku, mungkin bang Lufi punya alasan lain untuk tidak tertawa, yang jelas ku lihat dia hanya terpaku dan tak sengaja curi pandang terhadap ku. Lirikan itu malah semakin menusuk ke relung hati ku, memutuskan urat sarap rasa malu di otak ku. Entah kenapa aku saat itu merasa orang paling begu di ruangan itu, menjadi tertawaan teman-teman ku. Cah lontong senang kalo dia ngelawak penonton tertawa karena tujuannya menmang membuat penonton tertawa, namun berbeda dari kasus ku. Aku memang berharap bang Lufi tidak boleh ikut tertawa namun ketika dia benar-benar tidak tertawa justru membuat aku sekarat.

“Kamu boleh duduk.”Perintah pak Win seakan setelah membunuh ku kini menyelamatkan ku, yang mungkin tak ingin membiarkan aku menjadi bangkai mati rasa di depan kelas.

Teman-teman ku semua memandangku dan bertanya-tanya siapa yang melempar tulisan itu yang tentu saja aku jawab tidak tahu.

Hingga saat ini peristiwa hari itu ku ingat dengan istilah  Kertas bencana filsafat, sampai detik ini pun aku belum tahu darimana asal kertas itu. Mungkin semua teman ku sudah melupakan lelucon dari pak Win yang sama sekali tidak lucu bagi ku. Sumpah kejadian itu membuat aku semakin malu pada diri ku yang tanpa permisi telah menyukai bang Lufi. Aku jug tidak tahu mengapa sedikitpun bang Lufi gak pernah menanyakan soal kertas itu. Mungkin kah dia menganggap kertas itu lelucon sang dosen filsafat untuk mencairkan suasana kelas karena mata mata kuliah filsafat bisa dikatakan membingungkan dan membuat mahasiswa malas berfikir dan akhirnya mengantuk, namun bagi ku kertas itu adalah pembunuh perasaan ku yang telah menghancurkan wibawa dan memutus urat malu ku pada bang lufi.


Waktu terus berlalu hingga bang lufi wisuda, aku pun juga jarang bertemu dengan nya. Dia juga sudah jarang menelfon, sms atau bbm aku yang biasanya menanyakan tentang proker, jadwal rapat de el el pada ku. Hal itu membuat ku sakit, bukan aku sakit jiwa namun lebih dari itu. Sakitnya tu di sini ( di hati ). Aku juga telah berani melawan rasa suka ku pada bang Lufi karena tak datang pas wisudanya dengan alasan aku sedang sakit. Sejujurnya aku sudah membeli boneka wisuda yang telah ku pesan secara online yang rencanya aku berikan padanya saat dia wisuda. Niat itu keburu ku urungkan, aku takut dan sangat takut jika melihatnya berfoto dengan pendamping wisudanya. Pikiran ku benar-benar selalu mengkaji buruk. Aku tak mau cinta tak tersampaikan ini berakhir lebih buruk lagi.

Orang yang cintanya tak tersampaikan akan selalu gugup ketika mendengar nama orang yang disuka nya disebut. Begitulah terjadi pada ku, ketika tak sengaja teman ku menyebut nama bang Lufi, hati ku bergetar, kemudian berubah jadi sesak. Aldi yang saat ini sudah punya pacar lagi telah melupakan kisah cintanya yang ditolak. Rima yang putus dengan Tohar mahasiswa hukum terlihat enjoy tertawa, sedangkan aku yang bernasib mungkin tak semalang mereka namun bagi ku paling merana tak kunjung bisa merelakan nama bang Lufi jauh dari hati ini. Entah sampai kapan aku pendam perasaan ini. Aku sudah ratusan kali sesak nafas seakan tak mampu menghirup udara ketika bang lufi memasang Dp foto cewek di bbm nya dan terkadang membuat pm romantis dan terkadang sedih yang entah ditujukan buat siapa.

Dek, sombong ya sekarang sama abang
Gimana kul nya dek?”

Aku mempelototi tulisan yang tertera di layar bb ku. Itu bbm dari bang Lufi.
Berulang kali aku membaca tulisan tersebut, dan berulang kali membuat aku merasakan sesak di rongga dada ini. Ingin sekali aku menulis kalimat “ aku sombong karena aku menyukai mu.”. Aku belum juga read tulisan itu. Beragam macam pikiran mengawang di otak ku, namun jari ku seakan tak sanggup mengetik sebuah huruf pun.

“PING” terdengar lagi bb ku berbunyi, bola mata ku seakan semakin keluar ketika tahu ping itu berasal dari bang Lufi.

Dek, kok diam?Lagi sibuk y?”.

Kembali ku terima bbm dari bang Lufi. Aku masih belum me-read pesan itu, harusnya aku senang bang Lufi bbm aku, harusnya aku bahagia. Tapi kali ini yang kurasakan rongga di dadaku semakin sempit. Apakah aku marah, aku kesal,aku tak tahu. Yang jelas kehadiran bang Lufi menambah beban pikiran ku makin sakit dan rongga dada ku semakin menyempit.

Apa kabar bang?lagi dimana? Kayaknya udah dpt kerja ne?
Itulah kalimat yang akhirnya bisa ku kirim ke bang Lufi yang terus berlanjut dengan ceritanya. Bang Lufi bercerita bahwa saat ini dia sedang menunggu hasil wawancara dari kantor tempat dia memasukan lamaran kerja yang katanya sudah interview. Aku seharusnya bahagia dengan cerita bang Lufi, tapi entah kenapa hati ku berbalik. Semakin banyak aku tahu tentangnya, semakin sempit rongga dada ku, apakah ini ungkapan jiwa ku yang sudah tak kuat membendung perasaan suka ku padanya. Entah lah. Beberapa kali bang Lufi mengajak ku jalan dan ngobrol panjang dengan ku. Namun tak sedikitpun menyinggung tentang cinta. Aku pun begitu, aku terlalu pengecut, aku terlalu meninggikan harga diri bahwa cewek gak boleh bilang suka lebih dulu. Aku mempertahankan harga diriku, dan harga diri ku malah membunuh perasaan dan menyakiti hati ku. Yah..apakah takdir ku hanya menyukai?apakah sedikitpun tak ada sinyal-sinyal suka darinya untuk ku?apakah dia sudah punya pacar?Aku tak tahu, yang aku tahu sampai detik ini ketika aku mengingat nama bang lufi hati ini masih tidak karuan sama seperti dulu. Hati ku masih sangat menyukainya. Namun mulutku masih bungkam, harga diri ku masih bertahan kuat mungkin sampai titik darah penghabisan yang akhirnya harus merelakan cinta ini tak tersampaikan dan merelakan rongga di dada ini terus sesak oleh perasaan suka padanya.

Akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam harus bisa melanjutkan hidupnya denan keheningan. Pada akhirnya orang yang jatuh cinta diam-diam, ketika cintanya tak tersampaikan, cintanya terus terpendam yang hanya dirinya yang tahu. Mereka hanya bisa merelakan orang yang dia suka bahagia dan mendoakan setelah lelah berharap, pengharapan yang dulu sangat kecil sekali menjadi sangat besar namun semakin menjauh. Akhirnya ketika cinta tak tersampaikan, orang itu hanya bisa menerima dan harus paham bahwa pada kenyataannya apa yang diharapkan tak selalu sesuai dengan kenyataan. Yang akhirnya orang yang cinta tak tersampaikan hanya menyesali dirinya namun tak tahu apa yang disesalkan, kemudian hanya bisa merelakan dan menerima kenyataan cintanya tak tersampaikan, dia terus merasakan sesak, dia sendirian dan tetap jatuh cinta sendirian.

Cinta tak tersampaikan jauh lebih menyakitkan dibandingkan cinta ditolak maupun cinta yang dikhianati. Karena ketika cinta ditolak maka masih wajar sakit hati, dan ketika cinta dihkianati sangat normal dan sah saja merasa kecewa, merana dan marah. Namun ketika cinta tak tersampaikan maka orang yang yang jatuh itu merasakan keduanya,dia merasa cintanya ditolak walaupun dia tahu kalau dirinya tak pernah mengungkapkan dan akhirnya merana sendirian karena terkadang merasa dihianati ketika orang yang disukanya bersama orang lain, ketika dia marah, sakit hati, dia tau itu hal yang tak wajar karena hanya dia yang tahu perasaannya dan tak berhak marah pada orang yang disukainya.Dia bukan korban orang lain melainkan korban dari perasaannya sendiri.

By Salasiah

1 komentar: