Flag Counter

Jumat, 03 November 2017

Puisi sedih rindu orangtua

AKU BAIK-BAIK SAJA
By Salasiah

Waktu itu, kalian duduk di kursi tua
Bercengkrama, dengan teko teh panas
Sepiring singkong goreng yang masih panas
Ku lihat ayah asik dengan rokoknya
Ibu sibuk menjahit sarung yang sobek

Sore itu, aku dan kakak ku bercengkrama
Kami bergelut, saling mengejek terkadang berkelahi
Berebut komik petruk yang dibeli kemarin
Kakak ku yang paling sulung muncul dari dapur
Membawa sepiring singkong goreng lagi
Aku dan kakak ku berlomba menyerbu nya
Hingga tak sengaja menumpahkannya ke lantai

Ayah geleng kepala
Ibu mengomel denan ocehan khasnya
Aku menangis, kakak ku berlari
Semua terhenti ketika komandang magrib terdengar
Kami begitu bahagia

Ah…sudah lama sekali, sangat lama
Rasa nya baru kemarin,
Di kursi plastik merah tua mereka duduk
Disana kami mengukir kisah
Walaupun hidup sangat sederhana
Tapi kami sangat bahagia
Sudah sangat lama…
Bahkan aku tak ingat tanggal dan tahun berapa

Kini semua hanya ada di ingatan
Ingatan yang mulai berkarat dimakan waktu
Perlahan dihapus oleh ingatan baru
Semua seperti film pendek yang sangat real
Seperti baru kemaren, yah..kemaren
Suara mereka sangat jelas
Bahkan aku sangat ingat batuknya ayah
Duduk bersender dengan sarung kotak-kotak
Aku ingat dengkuran ibu ketika tidur
Aku ingat siulan kakak ku
Rambut pendek dengan senyum lebar.
Aku ingat semuanya, iya…semuanya…

Ahhh…semua sudah hilang
Semuanya lenyap
Semua sudah berlalu, semua sudah pergi
Pergi sangat jauh, yah…sangat jauh
Bukan di dunia ini..
Jauh dari sini, dari sana, dari situ
Mereka di alam sana, pergi semua…
Hanya meninggalkan sedikit kenangan
Tanpa menyisakan satupun foto keluarga
Hanya sebuah foto usang

Ayah, ibu, kakak…
Terkadang aku melihat foto kalian
Aku memandangi kalian
Aku setidaknya bersyukur pada kalian
Walaupun dunia terlalu kejam

Iya, sangat kejam.
Kalian tahu? berawal waktu itu..
Terakhir ayah pergi,
Tanpa sepatah kata yang terlalu berarti
Seakan pasrah menitipkan ku pada dunia
Berawal dari sana dunia seperti neraka
Setidaknya disitu aku tahu
Neraka nya para yatim piatu

Ayah, betapa aku memanggil mu..
Betapa aku memohon pada Tuhan kesembuhan mu
Semua berkehendak lain..
Semua sudah di setting
Kadang ironis, bagi para yatim

Semua berubah, dunia dulu bagi ku menyenangkan
Menjadi di sarang penjahat
Tak bisa ku bedakan antara mimpi dan realita
Semua sama, hitam, pekat, kejam
Aku terguncang, dasyat..
Aku ingin menghilag,
Aku sendirian
Menangis ketika hujan,
dihibur nyanyian kodok dan jangkrik
Amarah, iri, membuncah melihat mereka yang beruntung
Terkadang ingin mengutuk
Tapi aku tak tahu mengutuk siapa

Yah, itu masa lalu..
Waktu itu aku masih remaja
Ketika mereka seusia ku bahagia kisah cinta monyetnya
Aku bergelut pada dunia ku, dunia tanpa hari esok
Tanpa cahaya, mengutuk tak tau apa yang dikutuk
Berteriak tapi seakan tercekik

Dunia kejam…
Ya sudah itu masa lalu, sudah sangat lama
Tapi itulah realitanya..
Ayah, ibu, kakak..apa kabar kalian?
Maaf aku baru menyapa
Aku terlalu sibuk berjuang
Berjuang untuk melanjutkan hidup
Walaupun tanpa kalian

Oh..Tuhan
Maafkan aku kala itu
Mengeluh akan takdir tragis mu
Mengutuk diri dan dunia
Padahal semua pasti ada hikmahnya
Tapi, aku yakin
Mereka pasti tersenyum jika melihat ku sekarang
Ibu pasti tersenyum karena cita2 nya sudah aku penuhi
Ayah pasti menahan senyum melihat seragam ku
Kakak hanya menahan tawa membayang kan ku dengan sepatu tinggi ku

Keluarga ku, AKU BAIK-BAIK SAJA 
Salam dari anak, adik terkecil mu.

*Puisi ini aku persembahkan untuk kalian yang merindukan orangtua yang telah tiada
Tetap semangat, yakin dan percaya mereka melihat kita walaupun berbeda dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar