Flag Counter

Selasa, 18 Juni 2013

Nyeri Haid (Dismenori)

Dismenore (Nyeri Haid) 

Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan wanita setiap bulannya untuk kehamilan (Keikos, 2007). Menstruasi menurut Prawiroharjo (1999) adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, di sertai dengan pelepasan (deskuamasi)endometrium. Walaupaun menstruasi datang setiap bulan pada usia reproduksi, banyak wanita yang mengalami ketidaknyamanan fisik atau merasa tersiksa saat menjelang atau selama haid berlangsung (Blogdokter, 2007). Kebanyakan wanita tidak merasakan gejala- gejala pada salah satu waktu haid, tetapi sebagian kecil merasa berat di panggul atau merasa nyeri (Sarwono, 2007). Ketidaknyamanan fisik saat menstruasi yaitu dismenore.
                 Dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita- wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Sarwono, 2007). Dismenoremerupakan keluhan yang paling sering di temukan oleh ahli ginekologi, pemeriksaannya harus di laksanakan secara sistematis. Riwayat medis dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh merupakan cara diagnostik yang berhubungan dengan asaldismenore. Diagnostik tidak boleh berhenti pada jenis kelainan adanya penyakit atau kelainan yang menjadi dasar penyebabnya harus di cari, di diagnosis kemudian di terapi dengan sesuai (www.kompas.co.id).
                 Pada gadis- gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenore. Kebanyakan wanita mengalami tingkat kram bervariasi, pada beberapa wanita, hal itu muncul dalam bentuk rasa tidak nyaman dan letih, sedangkan beberapa yang lain menderita rasa sakit yang mampu menghentikan aktivitas sehari- hari.             
            Namun waspadai jika nyeri haid terjadi terus menerus setiap bulannya dalam jangka waktu yang lama, karena kondisi itu merupakan salah satu gejala endometritis (penyakit kandungan yang disebabkan timbulnya jaringan otot non- kanker sejenis tumor fibroid di luar rahim). Dismenore dikelompokkan sebagai dismenore primer saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore sekunder saat ada kelainan jeladss yang menyebabkannya (Sastrowardoyo, 2007).
            Sekitar 50% dari wanita yang sedang haid mengalami dismenore dan 10% nya mempunyai gejala yang hebat sehingga memerlukannya istirahat di tempat tidur (Hacker, 2007). Menurut beberapa laporan internasional prevalensi dismenore sangat tinggi dan setidaknya 50% remaja putri mengalami dismenore sepanjang tahun- tahun reproduktif.
                 Suatu studi menyatakan akibat dismenore tersebut sekitar 10% hingga 18%, dismenore adalah penyebab utama absen sekolah dan terganggu aktivitas lain. Hal ini diperkuat oleh penelitian sulastri (2006) bahwa akibat keluhan dismenore pada remaja putri di purworejo berdampak pada gangguan aktivitas sehari- hari sehingga menyebabkan absen sekolah < 3 hari.
                 Hasil studi terbaru menunjukan bahwa hampir 10% remaja yang dismenore mengalami absence rate1-3 hari per bulan atau ketidakmampuan remaja dalam melakukan tugasnya sehari- hari akibat nyeri hebat (Poureslami, dkk dalam sulastri 2006). Hal ini diperkuat oleh jarret, dkk dalam sulastri (2006) tingkatan rasa sakit saat menstruasi adalah sakit ringan 47,7% dan sakit berat sebanyak 47%. Selanjutnya untuk menghilangkan rasa sakit, remaja tersebut menggunakan obat sendiri tanpa konsultasi dengan dokter, minum obat analgesik 32,5%, melakukan kompres dengan air panas 34% dan yang tersering melakukan istirahat sekitar 92%.
Dismenore banyak di alami oleh para wanita. Di Amerika Serikat di perkirakan hampir 90 % wanita mengalami dismenore, dan 10-15 % di antaranya mengalami dismenore berat, yang menyebabkan mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun. Penelitian di Swedia menjumpai 30 % wanita menurun jumlah penghasilannya dikarenakan nyeri saat haid (Jurnal Occupation And Invironment Medicine, 2008).
     Di Indonesia angka kejadian dismenore sebesar 64,25 % yang terdiri dari 54,89 % Dismenore primer dan 9,36 % Dismenore sekunder (Info Sehat,2008). Tidak ada angka yang pasti mengenai penderita nyeri haid di Indonesia, namun di Surabaya di dapatkan 1,07 % sampai 1,31 % dari jumlah penderita datang ke bagian kebidanan (Harunriyanto, 2002).
Angka kejadian dismenorepada remaja diperkirakan 1,12 % sampai 1,35 % dari jumlah penderita yang memeriksakan diri ke petugas kesehatan (Profil kesehatan lampung 2007).
Di Metro, untuk angka kejadian Dismenore belum terdata dengan sistematis. Akan tetapi, untuk pelayanan terhadap kesehatan remaja cenderung berfluktuatif atau naik turun, pada tahun 2007 sebesar 13,05% dan cakupan ini masih jauh dari target yang ditetapkan. Jika dilihat distribusinya maka hanya empat kabupaten yang memiliki data yaitu Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Way Kanan. Berbagai upaya perlu dilakukan agar pencatatan dan pelaporan diperbaiki sehingga data pelayanan kesehatan remaja dapat tercover (ProfilKesehatan Propinsi Lampung Tahun 2007).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan kepada 30 santri Al- Muhsin, sebanyak 50% (15 santri) mengalami dismenore dan hanya 33% (5 santri) yang mengerti tentang nyeri haid dengan pengetahuan yang minim serta menanganinya dengan mengompres di bagian perut menggunakan air hangat. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas penulis ingin melakukan penelitian tentang “Hubungan pengetahuan remaja putri tentang dismenore dengan penanganan dismenore pada santri Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011”.

Dismenore
 Pengertian
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi (Imew, 2007). Sedangkan menurut kamus kedokteran (2005) dismenore berarti nyeri sewaktu haid. Dismenore merupakan nyeri saat menstruasi yang mengganggu kehidupan sehari- hari wanita dan mendorong penderita untuk melekukan pemeriksaan atau konsultasi ke dokter, puskesmas atau ke bidan (Manuaba, 1998).
Dismenore berarti karam, nyeri, ketidaknyamanan lainnya yang di hubungkan dengan menstruasi (Saturned, 2008). Sedangkan menurut Prawiroharjo (1999) dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabakan wanita- wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan.
    Patofisiologi
                                                  a.          Hiperaktivitas uterus dan berkurangnya aliran darah uterus
Penyelidikan yang menggunakan catatan tekanan intra uterus telah memperlihatkan hiperaktivitas uterus, yaitu kontraksi uterus yang lebih sering atau kontraksi- kontraksi yang lebih besar intensitasnya atau peningkatan tonus uterus yang mendasarinya, atau sejumlah kombinasi dari ketiga pengamatan ini pada hampir semua wanita yang mengeluh dismenore primer.
                              b.                Kelainan anatomi
Faktor- faktor anatomi dapat juga menyokong dismenore. Stenosi servik pernah di pikirkan sebagai penyebab umum dismenore (Ginekologi Greenhill:110).
                               c.                Ketidakseimbangan hormon
Mekanisme terjadinya dismenore yaitu korpus luteum berumurhanya 8 hari “korpus luteum menstruasionis” dan sejak umur 4 hari telah menurun pengeluaran estrogen dan progesteron disertai perbandingan yang tidak seimbang.
Penurunan dan ketidakseimbangan estrogen dan progesteron (E2/P) = 0.01 menjadi pemicu pengeluaran dari :
1) Enzim lipogenase dan siklosigenase.
2) Kerusakan membran sel sehingga dapat dikeluarkannya :
a) Asam fosfolipase.
b) Asam fosfatase.
c) Mengeluarkan ion Ca.
3) Pembentukan prostaglandin dari asam arakidonik (Manuaba:2001)

2.1.3     Macam- Macam Dismenore
Berdasarkan penyebabnya, dismenore di kelompokkan menjadi dua yaitu dismenore primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan dengan kelainan ginekologik dan dismenore sekunder (ekstrinsik, yang di peroleh, aquired) di sebabkan oleh kelainan (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis serivisis uteri, dan lain- lain) (Prawiroharjo,1999).

   
Dismenore Primer
Pengertian
Dismenore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa di jumpai kelainan pada alat- alat genital yang nyata. Dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus- siklus haid pada bulan- bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama- sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri adalah kejang berjangkit- jangkit, biasanya terbatas pada perut bagian bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas dan sebagainya.


  •   Faktor- faktor Penyebab
Beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenore primer, antara lain :
                                                  a.       Faktor kejiwaan
Pada gadis- gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenore.
                                                 b.       Faktor konstitusi
Faktor ini erat hubungan dengan faktor kejiwaan yang dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor- faktor seperti anemia, penyakit menahun dan sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya dismenore.
                                                  c.       Faktor obstruksi kanalis servikalis
Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, tetapi ini tidak di anggap sebagai faktor penting penyebab dismenore.
                                                 d.      Faktor endokrin
Pada umumnya da anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenore primer di sebabakan oleh kontraksi uterus yang berlebihanan. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus.
Novak dan Reynoldss yang melakukan penelitian pada uterus kelinci berkesimpulan bahwa hormon esterogen merangsang kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambat atau mencegahnya. Tetapi, teori ini tidak dapat menerengkan fakta mengapa tidak timbul rasa nyeri pada perdarahan disfungsional anovulator.
                                                  e.       Faktor alergi
Teori ini di kemukakan setelah memperhatiakn adanya asosiasi antara dismenore dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiale. Smith menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid. Penyelidikan dalam tahun- tahun terakhir menunjukan bahwa peningkatan kadar prostaglandin memegang peranan penting dalam etiologi dismenore primer (Praw

Dismenore Sekunder
Biasanya baru muncul kemudian, yaitu jika ada  keluhan yang menetap seperti infeksi rahim, kista, atau polip, tumor sekitar kandungan, kelainan kedudukan rahim yang dapat mengganggu organ dan jaringan sekitarnya (www.compas.co.id). Dismenore sekunder adalah nyeri haid yang disertai kelainan anatomis genitalis (Manuaba, 2001).
Menurut Hacker (2001) tanda – tanda klinik dari dismenore sekunder adalah endometriosis, radang pelvis, fibroid, adenomiosis, kista ovarium dan kongesti pelvis. Umumnya, dismenore sekunder tidak terbatas pada haid, kurang berhubungan dengan hari pertama haid, terjadi pada wanita yang lebih tua (tiga puluhan atau empat puluhan tahun) dan dapat disertai dengan gejala yang lain (dispareunia, kemandulan dan perdarahan yang abnormal).
Dismenore sekunder dapat di sebabkan oleh :
1.         Rahim yang terbalik, sehingga membuat darah haid tidak mudah di keluarkan.
2.         Benjolan besar atau kecil didalam rahim.
3.         Peradangan selaput lendir rahim.
4.         Pemakaian spiral
5.         Endometriosis
6.         Fibroid atau tumor
7.         Infeksi pelvis
(www.compas.co.id).

2.1.3.   Gejala Klinis
Gejala- gejala klinis biasanya di mulai sehari sebelum haid, berlangsung selama hari pertama dan hari ke dua haid dan jarang terjadi setelah itu. Rasa nyeri biasanya merupakan nyeri di garis tengah perut di atas tulang kemaluan, nyeri terasa hilang timbul, tajam dan bergelombang. Biasanya menngikuti arah rahim dan dapat menjalar ke arah pinggang bagian belakang. Selain rasa nyeri dapat di sertai rasa mual, muntah, sakit kepala dan mudah tersinggung atau depresi (www.compas.co.id).
Dismenore primer terjadi bersamaan atau beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus – siklus haid pada bulan – bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama – sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri adalah kejang, biasanya terbatas pada perut bawah tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare dan iritabilitas.
Sedangkan tanda – tanda klinik dari dismenore sekunder adalah endometriosis, radang pelvis, fibroid, adenomiosis, kista ovarium dan kongesti pelvis. Umumnya, dismenore sekunder tidak terbatas pada haid, kurang berhubungan dengan hari pertama haid, terjadi pada wanita yang lebih tua (tiga puluhan atau empat puluhan tahun) dan dapat disertai dengan gejala yang lain (dispareunia, kemandulan dan perdarahan yang abnormal).


  • Dampak Dismenore
Perlu waspadai jika nyeri haid terjadi terus menerus setiap bulannya dalam jangka waktu yang lama, karena kondisi itu merupakan salah satu gejala endometritis (penyakit kandungan yang disebabkan timbulnya jaringan otot non- kanker sejenis tumor fibroid di luar rahim). Dismenore dikelompokkan sebagai dismenore primer saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore sekunder saat ada kelainan jelas yang menyebabkannya (Sastrowardoyo, 2007).

Pengetahuan
    2.2.1 Pengertian Pengetahuan
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia serta keadaan sosial-budaya.
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005).

2.2.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) membagi 6 tingkat pengetahuan. Ada 6tingkat pengetahuan yang dicapai dalam domain kognitif yaitu :
1 1.   Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2 2.  Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
   3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kamapuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4 4.    Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5 5.  Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun suatu formula baru dari formulasi-formulasi yang ada.


6 6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2002:25) beberapa faktor yang berhubungan dengan karakteristik subjek antara lain:
a.    Usia
Semakin cukup usia tingkat kemampuan atau kematangannya akan lebih mudah untuk berfikir dan mudah menerima informasi.
b.    Tingkat Pendidikan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangan atau masyarakat yang pendidikannya tinggi akan lebih mudah menerima informasi atau penyuluhan yang akan diberikan dan lebih cepat merubah sikapnya dalam kehidupan sehari-hari.
c.    Intelegensi
Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan diri dan cara pengambilan keputusan masyarakat yang intelegensinya tinggi akan banyak berpartisipasi lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan disbanding dengan masyarakat yang intelegensinya rendah.


d.   Sosial-ekonomi
Mempengaruhi tingkah laku seseorang yang berasal dari social ekonomi tinggi dimungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya tetapi bagi masyarakat yang social ekonominya rendah akan merasa takut untuk mengambil sikap dan tindakan.
e.    Sosial-budaya
Dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam penyerapan nilai-nilai social keagamaan untuk memperkuat super egonya.

Cara Memperoleh Pengetahuan
Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu cara tradisional (non ilmiah) dan cara modern (ilmiah).
a. Cara tradisional (non ilmiah)
Cara ini dipakai orang untuk memperoleh pengetahuan sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematis dan logis. Cara penentuan pengetahuan secara tradisional antara lain :
(1) Coba-coba dan salah
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban.

(2) Cara kekuasaan (otoritas)
Prinsip dalam cara ini adalah orang lain menerima pendapat yang diketemukan oleh orang yang mempunyai aktivitas tanpa menguji atau membuktikan kebenaran terlebih dahulu berdasarkan fakta empiris atau berdasarkan penalaran sendiri.
(3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang ada pada masa lalu.
(4) Melalui jalan pikir
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan pikirannya secara induksi dan deduksi.

b. Cara modern (ilmiah)
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada saat ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan jalan mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatan terhadap semua fakta sebelumnya dengan objek penelitian (Notoatmodjo, 2005).

Cara Mengukur Pengetahun dan Hasil Pengukuran
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang di ukur dari subjek penelitian atau responden. Pendalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas.
Menurut Sugiyono (2007) hasil pengukuran pengetahuan dengan menggunakan hasil rata- rata keseluruhan dan di implementasikan ke dalam2 kategori, yaitu :
1.    Kategori pengetahuan baik, jika skor jawaban > mean.
2.    Kategori pengetahuan kurang baik, jika skor jawaban <mean.

   Penanganan
    Pengertian
Penanganan adalah proses, cara, perbuatan menangani (www.artikata.com).

   Penanganan Dismenore
1.         Penerangan dan nasehat
Perlu di jelaskan pada penderita bahwa dismenore adalah gangguan tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau tahayul mengenai haid perlu di bicarakan. Nasihat- nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup dan olahraga yang berguna. Kadang- kadang di perlukan psikoterapi.
2.         Penberian Obat Analgetik
Pemberian obat analgetik yang di berikan sebagai terapi simptomatik. Obat analgetik yang sering di berikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin dan kafein.
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non – steroid (misalnya ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai 1 – 2 hari menstruasi.
3.         Terapi Hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tujuan ini dapat dicapai dengan dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.
4.         Terapi dengan Obat Nonsteroid antiprostaglandin
Memegang peranan penting yang makin penting terhadap dismenore primer. Obat yang menurunkan jumlah prostaglandin akan membantu mengurangi rasa nyeri. Hendaknya pengobatan diberikan sbelum haid dimulai (1 sampai 3 hari sebelum haid) dan pada hari pertama haid (Prawiroharjo, 1999).
5.         Senam rutin dapat mengurangi kadar prostaglandin.
6.         Memberikan terapi dengan mengompres bagian perut yang nyeri dengan menggunakan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol (www. Medicastore.co.id).
7.         Pemijatan didaerah punggung dan paha
8.         Orgasme pada aktivitas seksual

 Remaja
Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya adolescentra yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence , seperti yang dipergunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. (Hurlock, 2000)
Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama. (Hurlock, 2000).



Batasan Usia Remaja
Awal masa remaja berlangsung kira-kira 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia matang secara hukum. Dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat. (Hurlock, 2000)
Pada masa adolesensi ini terjadi proses kematangan yang berlangsung secara lambat dan teratur. Masa ini merupakan kunci dari perkembangan anak. Menurut banyak ahli jiwa, batas waktu adolesensi itu ialah 17-19 tahun atau 117-21 tahun. (Kartono, Kartini, 1992 : 65)
Sedangkan menurut WHO batasan usia remaja adalah 12-24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa, atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan dalam kelompok remaja.
(http://smileboys.blogspot.com/2008/06/pengertian-remaja.html)

2.3.3 Aspek-Aspek Perkembangan Pada Masa Remaja
1.        Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
2.        Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (Papalia & Olds, 2001).
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
3.        Perkembangan kepribadian dan social
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001)


Sumber:

Minggu, 16 Juni 2013

Tipe Cewek yang Gampang Dipermainkan Cowok

 Tipe Cewek yang Gampang Dipermainkan Cowok


            Para kaum Hawa tentunya tidak ingin dipermainkan oleh kaum Adam. Dipermainkan itu pasti menyakitkan. Mungkin para cewek pada umumnya pernah dipermainkan dari kaum cowok, walaupun ada juga cewek yang tidak pernah dipermainkan. Mengenai perihal main-memain (mempermainkan) sering juga jadi suatu kebanggaan (prestise) tersendiri bagi cowok. Pastinya bagi cowok yang (maaf, tidak benar).
            Para cewek yang jadi korban permain cowok-cowok biasanya kesal sekali, menganggap bahwa semua cowok begitu. Padahal si cewek juga tidak menyadari, sebenarnya tidak bisa menyalahkan si cowok sepenuhnya. Karena si cewek juga mengambil andil dalam hal ini.

*Pastinya ladies gak mau donk dipermainkan...hee

Aku pengen berbagi mengenai beberapa criteria cewek yang “Gampang dipermainkan cowok”..


  • Easy Women Believe

           Tipe cewek ini jika di beri sebuah kata-kata romantis maka akan mudah untuk di taklukkan. Sehingga mudah untuk di bohongi. Biasanya tipe ini mudah sekali terbujuk dengan rayuan manis para cowok, tanpa memikirkan benar atau tidak, real atau not real. Segala omongan cowok ditelan abis. Cewek yang mudah percaya berbeda dengan cewek lugu dan polos lho...

  • Women who Have Less Shame

           Sebenarnya sesuatu yang mampu menjaga wanita dari permainan cowok adalah rasa malu, jika rasa malau sudah tidak ada, maka akan menjadi peluang besar bagi laki-laki playboy. Cewek yang sudah kehilangan rasa malu akan memberikan peluang yang besar bagi cowok  playboy untuk memanfaatkan kesempatan untuk mempermainkan. Maka bagi kaum cewek, tetap jaga lah rasa "MALU" itu.

  •  Educated women Low

      Kurang pengetahuan memang berdampak pada sering di bodohi para lelaki, sehingga hal yang bersifat negatif, di anggap positif. dan jenis ini yang paling sering kita lihat di sekitar kita. contohnya kasus yang sering kita dengar, wanita di ajak berzina dengan alasan " kalau tidak berzina katanya tidak cinta." akhirnya wanitanya mau, dan lelakipun kabur setelah hasratnya terpenuhi. 
      Seorang cewek yang berpendidikan dan berpengetahuan yang memadai akan lebih sulit dipermainkan, karena si cewek menggunakan pikiran dan logikanya setiap apa yang akan dilakukan. 

  • Sexy woman Dressed

     Perihal pakaian jika dibahas pada zaman sekarang, woow...no coment deh. Style yang ditampilkan public figur mancanegara maupun nasional umumnya mempertontonkan busana yang "Kurang Bahan". Kalo saya menyebutnya bukan pakaian, tetapi pakaian suku pedalaman primitif zaman manusia purba, karena pada masa itu belum ditemukan bagaimana membuat pakaian. Tetapi pada masa sekarang ini "Versi Modern".
    Berpakaian seksi sepertinya bagai sebuah pristise, yang disebut aurat itu hanya dua saja (maaf:atas dan tengah). Sebenarnya wanita yang berpenampilan seksi bukan takut ketinggalan style, tetapi ingin memepertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya untuk dinikmati kaum adam. 

  • Women with a High Prestige
Rasa gengsi terkadang sering di manfaatkan untuk jadi ajang perlombaan, misalkan gengsi kalau masih perawan, gengsi jika tidak punya pacar banyak dan seterusnya. 

  • Aggressive woman

      Jenis ini adalah jenis yang paling mudah untuk di jadikan permainan. Cukup dengan menyambut agresif si cewek maka selesailah tujuan cowok nakal. Cewek agresif biasanya begitu antusias dan memiliki respon yang berlebihan apabila cowok mulai mendekat. 

  • Women who did not feel uncomfortable Close With Men
Cewek tipe ini sadar tidak sadar kedekatannya dengan para lelaki, telah melatih jiwanya untuk merasa biasa dengan laki-laki, sehingga dia tidak mengetahui mana lelaki yang serius dan mana lelaki yang main-main. dan kemudahannya dekat dengan lelaki, menjadi jalan mulus bagi para playboy untuk mendapatkannya. 

  • Women Who Enjoys hanging out
    Hal yang begitu di inginkan wanita ini dengan nongkrong, agar bisa mudah menemukan lelaki, dan lelaki mudah untuk menemukan dia. wanita ini membuka pintu perkenalan lebar-lebar melalui sarana nongkrong. dan sarana nokrong memang di jadikan salah satu media untuk para lelaki playboy agar mendapatkan mangsanya. 

  • Ambitious woman

     Banyak wanita berambisi ingin kaya, ingin jadi artis, ingin punya pekerjaan, dan lain sebaginya, sehingga banyak lelaki yang menjadikan alasan memenuhi ambisi si wanita, padahal hanya untuk mempermainkannya. Sebenarnya seorang boleh saja berambisi untuk sesuatu, namun ambisi ini harus ada kontrol. Karena jika ambis sudah berlebihan dan memaksakan ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan, maka tidak jarang para cowok playboy memanfaatkan kesempatan itu. Misalnya ingin membantu mendapatkan keinginan cewek, tetapi sebenarnya si cowok hanya berniat mempermainkan.

  • Women who love to show off
    Tipe wanita yag suka pamer, misalnya pamer kekayaan, kecantikan, kepintaran atau lainnya. Maka ini cenderung bagi cowok ingin mendekatinya. Biasanya si cewek akan langsung terkesima dan menganggap kelebihan yang dimilikinya direspon si cowok. Sebenarnya pada umumnya cowok yang baik tidak menyukai cewek yang suka pamer.


*Note: Wajib dibaca :Tulisan hanya sebagai informasi buat cewe-cewek, biar gak gampang dipermainkan,..semoga gak termasuk dalam tipe ini..

Defenisi Tradisi dan Kemunculan Tradisi (Dalam beberapa Pandangan)

 Apa sih  Tradisi itu???
Membahas mengenai tradisi, hubungan antara masa lalu dengan masa kini haruslah lebih dekat. Tradisi mencakup kelangsungan masa lalu dimasa kini ketimbang sekadar menunjukan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Menurut arti yang lebih lengkap bhwa tradisi merupakan kesluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada kini, belum dihancurkan, dirusak, dibuang atau dilupakan. Maka di sini tradisi hana berarti warisan, apa yang benar-benar tersisa dari masa lalu. Hal ini senada dengan apa yang dikatan Shil.
“Tradisi berarti segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini ( Shil, 1981 : 12 dalam buku Piotr Sztompka, 2007 :70).
Tradisi (Bahasa Latin: traditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Hasan Hanafi (dalam buku Moh Nur Hakim, 2003:29) mendefenisikan bahwa tradisi (Turats)  merupakan segala warisan masa lampau yang masa pada kita dan masuk ke dalam kebudayaan yang sekarang berlaku. Berarti bagi  pandangan Hanafi bahawa turats itu tidak hanya peninggalan sejarah, tetapi juga sekaligus merupakan persoalan zaman kini dengan berbagai tingkatannya.
Secara termologi perkataan tradisi mengandung suatu pengertian yang tersembunyi tentang adanya kaitan masa lalu dengan masa kini. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi pada masa sekarang. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal yang gaib atau keagamaan.
Di dalam suatu tradisi diatur bagaimana manusia berhubungan dengan manusia lain atau satu kelompok dengan kelompok lain, bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungannya dan bagaimana manusia berperilaku terhadap alam yang lain. Ia berkembang menjadi suatu sistem yang memiliki pola dan norma dan sekaligus juga mengatur penggunaan sanksi dan ancaman terhadap pelanggaran dan penyimpangan.
Sebagai sistem budaya, tradisi menyediakan seperangkat model untuk bertingkah laku yang bersumber dari sistem nilai dan gagasan utama (vital). Tradisi juga menrupakan suatu sistem yang menyeluruh, yang terdiri dari cara aspek yang pemberian artia laku ujaran, laku ritual dan beberapa jenis laku lainnya dari manusia atau sejumlah manusia yang melakukan tindakan satu dengan yang lain. Unsur terkecil dari sistem tersebut adalah simbol. Simbol meliputi simbol konstitutif (yang berbentuk kepercayaan), simbol penilaian norma, dan sistem ekspresif (simbol yang menyagkut pengungkapan perasaan).(Mursal Esten, 1999:22).
Jadi yang menjadi hal penting dalam memahami tradisi adalah sikap atau orientasi pikiran atau benda material atau gagasan yang berasal dari masa lalu yang dipungut orang dimasa kini. Sikap dan orientasi ini menempati bagian khusus dari keseluruhan warisan historis dan mengangkatnya menjadi tradisi. Arti penting penghormatan atau penerimaan Sesutu yang secara sosial ditetapkan sebagai tradisi menjelaskan betapa menariknya fenomena tradisi itu.



2.3.2 Kemunculan dan Perubahan Tradisi
Dalam arti sempit tradisi adalah kumpulan benda material dan gagasan yang diberi makna khusus berasal dari masa lalu. Tradisi pun mengalami perubahan. Tradisi lahir disaat tertentu ketika orang menetapkan fragmen tertentu dari warisan masa lalu sebagai tradisi. Tradisi berubah ketika orang memberikan perhatian khusu pada fragmen tradisi tertentu dan mengabaikan fragmen yang lain. Tradisi bertahan dalam jangka waktu tertentu dan mungkin lenyap bila benda material dibuang dan gagasan ditolak atau dilupakan. Tradisi mungkin pula hidup dan muncul kembali setelah lama terpendam.
Tradisi lahir melalui 2 (dua) cara, yaitu :
1. Muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan tak diharapkan serta melibatkan rakyat banyak. Karena sesuatu alasan, individu tertentu menemukan warisan historis yang menarik. Perhatian, ketakziman, kecintaan dan kekaguman yang kemudian disebarkan melalui berbagai cara, memengaruhi rakyat banyak. Sikap takzim tersebut berubah menjadi prilaku dalam bentuk upacara, penelitian dan pemugaran peninggalan furbakala serta menafsir ulang keyakinan lama.
2. Muncul dari atas melalui mekanisme paksaan. Sesuatu yang dianggap tradisi dipilih dan dijadikan perhatian umum atau dipaksakan oleh individu yang berpengaruh atau berkuasa.
Dua jalan kelahiran tradisi tersebut tidak membedakan kadarnya. Perbedaannya terdapat antara “tradisi asli”, yakni yang sudah ada di masa lalu. Tradisi buatan mungkin lahir ketika orang memahami impian masa lalu dan mampu menularkan impian itu kepada orang banyak. Lebih sering tradisi buatan ini dipaksakan dari atas oleh penguasa untuk mencapai tujuan politik mereka.
Begitu terbentuk, tradisi mengalami berbagai perubahan. Perubahan kuantitatifnya terlihat dalam jumlah penganut atau pendukungnya. Rakyat dapat ditarik untuk mengikuti tradisi tertentu yang kemudian memengaruhi seluruh rakyat dan negara atau bahkan dapat memepengaruhi skala global.
Arah perubahan lain adalah arahan perubahan kualitatif yakni perubahan kadar tradisi. Gagasan, simbol dan nilai tertentu ditambahkan dan yang lainnya dibuang.  Cepat atau lambat setiap tradisi mulai dipertanyakan, diragukan, diteliti ulang dan bersamaan dengan itu fragmen-fragmen masa lalu ditemukan disahan sebagai tradisi.
Perubahan tradisi juga disebabkan banyaknya tradisi dan bentrokan antara tradisi yang satu dengan saingannya. Benturan itu dapat terjadi antara tradisi masyarakat  atau kultur yang berbeda di dalam masyarakat tertentu.

2.3.3. Fungsi Tradisi
Shil menegaskan bahawa :
“Manusia tak mampu hidup tanpa tradisi meski mereka sering merasa tak puas terhadap tradisi mereka” (Shils, 1981: 322 dalam buku Piotr Sztompka, 2007 : 74)
Berdasarkan apa yang dikatakan Shils di atas, maka suatu tradisi itu memiliki fungsi bagi masyarakat yaitu :
1. Dalam bahasa klise diyatakan, tradisi adalah kebijakan turun-temurun. Tempatnya di dalam kesadaran, keyakinan norma dan nilai yang kita anut kini serta di dalam benda yang diciftakan di masa lalu. Tradisi pun menyediakan fragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat. Tradisi seperti onggokan gagasan dan material yang dapat digunakan  orang dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan.
2. Memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan yang sudah ada. Semuanya ini memerlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya. Salah satu sumber legitimasi terdapat dalam tradisi. Biasa dikatakan: “selalu seperti itu” atau :orang selalu mempunyai keyakinan demikian” meski dengan resiko yang paradoksal yakni bahwa tindakan tertentu hanya akan dilakukan karena orang lain melakukan hal yang sama di masa lalu atau keyakinan tertentu diterima semata-mata karena mereka telah menerima sebelumnya. (Shils, 1981 : 21 dalam buku Piotr Sztompka, 2007 : 75).
3. Menyediakan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas dan kelompok. Tradisi daerah, kota dan komunitas lokal sama perannya yakni mengikat warga atau anggotanya dalam bidang tertentu.

4. Membantu menyediakan tempat pelarian dari keluhan, ketidakpuasan dan kekecewaan dan ketidakpuasan kehidupan modern. Tradisi yang mengesankan masa lalu yang lebih bahagia menyediakan sumber  pengganti kebanggaan bila masyarakat berada dalam krisis. (Piotra Sztompka, 2007 : 76).

Defenisi Masayarakat menurut beberapa ahli

Masayarakat
Tidak ada defenisi tunggal tentang masyarakat. Hal ini dikarenakan sifat manusia dalam sebuah kelompok yang dinamis, selalu berubah dari waktu ke waktu. Akibatnya presepsi para pakar tentang masyarakat juga berbeda satu dan yang lainnya.
Emile Durkheim mendefenisikan masyarakat sebagai kenyataan objektif individu-individu  yang merupakan anggota-anggotanya.
Sedangkan Karl Marx melihat masyarakat sebagai struktur yang terdapat ketegangan sebagai akibat pertentangan antar kelas sosial sebagai akibat pembagian nilai-nilai ekonomi yang tidak merata di dalamnya.
Berbeda pula dengan defenisi yang diberikan M, J. Heskovits. Menurutnya masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti suatu cara hidup tertentu.
Paul B.Horton mendefenisikan masyarakat secara panjang lebar. Menurutnya masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama cukup lama, mendiami wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok tersebut tersebut. Dilain pihak dia mengatakan masyarakat adalah organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama lainnya.
Sedangkan Selo Soemardjan mendefenisikan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
J.L Gillin J.P Gillin memberikan defenisi bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang tersebar mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama. (Elly M.Setiadi & Usman Kolip, 2011:35-36).
Masyarakat merupakan kesatuan – kesatuan hidup manusia, baik dalam tulisan ilmiah maupun dalam bahasa sehari-hari. Dalam bahasa inggris dipakai istilah society yang berrasal dari kata latin sociu, yang berarti”kawan”. Istilah msyarakat sendiri berasal dari akar kata arab syaraka berarti ikut serta, berpartisipasi. (Koetjaraningrat. 1979:143).
Jadi berdasarkan defenisi yang dipaparkan Koentjaraningrat diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa masyarakat itu merupakan sekumpulan manusia yang saling berinteraksi.
Tidak semua masyarakat yang bergaul atau berinteraksi itu merupakan masyarakat, karena suatu masyarakat harus mempunyai suatu ikatan yang khusus.  Ikatan yang membuat suatu kesatuan itu menjadi sebuah masyarakat yaitu pola tingkah laku yang khas mengenai semua factor kehidupannya dalam batas kesatuan itu. Berarti pola tersebut harus kontinyu yang artinya sudah menjadi adat istiadat yang khas. (Koentjaraningrat.1979:145).
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu system adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat.1979:146).
Terlepas dari berbagai pandangan yang berbeda tentang masyarakat yang dikemukakan oleh para ahli, secara substansional terdapat titik temu yaitu masyarakat merupakan kumpulan manusia yang terdiri dari komponen-komponen:
1.      Terdapat sejumlah orang yang jumlahnya relatif besar, saling berenteraksi antara satu dengan yang lainnya baik antar individu, individu dan kelompok, maupun antar kelompok dalam satu kesatuan sosial yang menghasilkan produk kehidupan, yaitu kebudayaan.
2.      Menjadikan struktur dan sistem sosial budaya, baik dalam skala kecil (mikro) maupun dalam skala besar/luas (makro) antarkelompok.
3.      Menempati kawasan tertentu dan hidup di dalam kawasan tersebut dalam waktu relative lama hingga antargenerasi.
Adapun Soerjono Soekanto  mengemukakan bahwa ciri-ciri kehidupan masyarakat adalah :
1.      Manusia yang hidup bersama-sama sekurag-kurangnya dua orang individu.
2.      Bercampur atau bergaul dalam waktu yag cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru dan sebagai akibat dari kehidupan bersama tersebut akan timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengaturan antar manusia.
3.      Menyadari bahwa kehidupan mereka merupakan satu-kesatuan.
4.      Merupakan sistem bersama yang mnimbulkan kebudayaan sebagai akibat dari perasaan saling terkait antara satu dan lainnya.
Marion Levy membuat criteria masyarakat untuk kehidupan kelomok manusia, diantaranya :
1.      Kemampuan bertahan yang melebihi masa hidup seorang anggota.
2.      Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran.
3.      Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
4.      Kesetiaan pada sistem tindakan utama secara bersama-sama, yang kemudian ditambah oleh Talcott Parson, yaitu :
·         Melakukan sosialisasi pada generasi berikutnya. (Elly M.Setiadi & Usman Kolip, 2011:37).
Dari berbagai pendapat tentang masyarakat, dapat disimpulkan bahawa masyarakat adalah sekelompok orang yang bertempat tinggal di daerah tertentu dalam waktu yang relative lama, memiliki norma yang mengatur kehidupannya menuju tujuan yang dicita-citakan bersama, dan di tempat tersebut anggotanya melakukan regenerasi.