Flag Counter

Kamis, 10 Desember 2015

Cerpen Lucu, sedih, kocak dan Konyol ( Rejeki Nyasar ) kisah real.

Rejeki Nyasar

Tidak ada yang namanya rejeki nomplok atau istilah kerennya “Durian Runtuh”, karena rejeki datang karena usaha dan doa sehingga melalui itulah Tuhan mengirim rejeki untuk kita. Jangan mengambil sesuatu yang bukan milik sah kita, nantinya kita akan menyesal.

Kalian sudah nonton fillm Thailand yang super kocak, judulnya " ATM", ( mirip juga sedikit cerita film itu dengan cerita aku nanti bertema uang,atm, kesalahan dan Bank).

Hai, nama ku Lass bukan las besi ataupun Las Vegas di Amrika sana, mau sih aku dikasih nama Park Shin Hye tapi ortu aku gak gaul, jadi gak tahu nama-nama artis korea..lagipun di November 1992 umur Park Shin Hye baru 2 tahun, belum muncul di TV, tapi Giana Jun kan sudah terkenal...hikkk..XD ( gila banget sampe pingin nama korea..haha). Kalo mau tau, status aku saat ini masih pengangguran karena aku baru resign sejak beberapa bulan yang lalu dari sebuah perusahaan (ooh..baper). Aku mau cerita tentang pengalaman menggelikan, lucu kadang menyebalkan. Kalian reader pernah gak mengalami suatu kejadian “Tiba-tiba ada uang masuk secara tak terduga, tak tahu sumbernya, saldo tabungan kamu bertambah berpuluh kali lipat.”. Bayangin aja masing-masing bagaimana perasaan kalian.

Sehari hari tak banyak yang aku lakukan, aku punya sedikit kesibukan di depan layar laptop, nonton, nulis Sesuatu paling jauh main game kadang juga iseng -iseng ngotak - atik photoshop.

Nah, disela-sela kesibukan ku yang tak jelas ini, suatu hari aku baru pulang dari suatu tempat, aku mampir ke sebuah bank milik BUMN, maksud hati mau bertanya tentang informasi lowongan pekerjaan kepada pihak yang bekerja di sana. Nah, agar tidak malu - maluin kesannya, aku masuk dulu ke ruang atm, cek saldo sih. Aku pun memasukan Sim Card ke mesin atm, masukan pin dan pilih menu transaksi, tentu saja pilihan pertama ku adalah “Informasi Saldo.

DING DING DONG JREEENG

Tertulis sangat jelas saldo di monitor sangat menghanyutkan hati, bikin mata miris saldo diambang batas kematian alias mau minus. Ekpressi aku harus enjoy, malu - maluin sih kalo keliatan di CCTV umpamanya aku nangis histeris karena saldo tragis ku. Berbahayanya jika video CCTV aku pas lagi histeris guling - guling di tembok tersebut masuk ke acara TV nasional  On  The Spot di Trans7, kan sama sekali gak lucu.

Singkat cerita, aku lirik security yang lagi ngerumpi sama kakek kakek tua. Aku sih punya sopan santun juga, kalo aku langsung nerobos ngomong gini.

“Pak satpam, permisi. Mau nanya, apa betul Bank bla bla sedang open recruitment pegawai?”
“Apaan kau main terobos aja”Hardik kakek.
“Diam aja lu,”balas ku.

Nah kalo perckapan halusinasi ku di atas kan gak lucu, jadi untuk memperlambat waktu aku keluarkan sim card yang lainnya. Maklum orang kaya, harus banyak punya buku tabungan. Hahaha. (Kepedean). Lalu aku melakukan transaksi seperti semula dengan pin tentunya berbeda, transaksi pertama adalah kali ini “Tarik saldo 50.000” hihiiik. Transaksi selesai.

JREEEEEEENG

Mataku langsung melotot, seakan ingin keluar biji mata rasanya ketika melihat saldo akhir pada resi transaksi
Saldo : 1.835.000,- (Waktu itu aku tetap jalankan misi nanya ke security tentang recruitment, ya..syukurnya dapat juga informasinya).

Ini apa mata aku yang lagi rabun karena lagi terik bangat ketika itu, tapi berulang kali aku kucek mata ku tetap aja angkanya tak berubah. Singkat cerita akupun pulang dengan hati bertanya tanya antara bingung, senang galau. Bingung karena gak tau darimana datangnya tuh uang, senang karena merasa mendapat rejeki nomplok, galau karena tu uang pasti ada sesuatu yang terjadi, jika salah kirim pasti yang punya minta balikin. Tentu saja aku cerita dengan teman serumah ku ( sebut saja nama mereka Kim So Hyun dan D.O Exo..icek icek lah, mereka suka tuh artis), ya..hal yang tak lajim biasanya orang tak akan kuat menyimpan sendiri dalam hati, maklum hatiku masih putih..walaupun ada bintik-bintik hitam dikit..hihihik..emank wajah yang ada flek hitam segala. Teman serumahku orang baik semua, mereka pun berkomentar tak jauh dari kekuatiranku, alias tidak ada yang nyuruh narik, makan sama sama alias gunakan uang itu sama-sama. (Benarin hijab syar’i berasa jadi ustadzah..).
Singkat cerita antara dilema dan hati masih gundah gulana bertanya - tanya, namun meskipun aku status kere saat ini tapi aku masih mempunyai yang namanya suatu hal yang sudah lama tercover di hatku, bukan sok suci sih. “Jangan mengambil sesuatu yang bukan milik kita”. Godaan pun silih berganti menghantuiku, sempat terbesit di otak ku untuk menarik seluruh uang nyasar tersebut apalagi sempat aku bertemu teman ku di Bank ketika itu, aku bercerita tentang kegundahan hatiku tentang uang nyasar. Dia dengan enteng ngomong, “Ambil aja, kan itu uang nyasar ke rekening mu,kalo tak bagi ke aku aja.” Ujarnya, hemmmm..pertempuran hati nurani dan kerakusan lagi perang di hati, akhirnya hati nurani lah yang menang.

Singkat cerita,  akupun melakukan suatu cara bagaimana mengetahui sumber datangnya itu uang, yang pertama aku melakukan list orang - orang yang dicurigai menjadi pengirimnya:
        Kakak kandung berinisial “I”, alibinya karena satu hari yang lalu dia menelfon mengatakan ingin mentransfer uang.
        Kakak kandung berinisial “D”, alibi ia sering transfer tak memberi tahu.
        Kakak sepupu berinisial “E”, alibi karena ia sering transfer uang untuk anaknya melalui rekeningku.
        Guru SMP berinisial “S”, alibi ia juga pernah mentransfer tanpa memberi tahu.
        PT bla bla… tempat aku bekerja dulu, alibi jumlah uang nyasar itu sama dengan satu bulan gaji karyawan kontrak berijazah SMA sederajat.

Singkat cerita aku melakukan penyelidikan cara sederhana yakni bertanya pada mereka dengan menelfon mereka dimulai dari no. 1.
“Kak, kemaren berapa ngirim uang ke rekeningku?”Tanya ku.
“Bla bla..sekian sekian…”jawabnya.

CORETTT  dari list point 1, begitu hingga point nomor 4 telah keluar dari list yang dicurigai artinya murni bukan mereka yang melakukan pengiriman uang tersebut.

Nah tinggal satu list yang paling besar dugaannya, namun aku sempat bimbang karena uang tersebut sempat nginap 2 hari di rekeningku. Alibiku juga kuat karena bulan - bulan sebelumnya setelah aku resign tidak pernah hal tersebut terjadi, aku hampir mencoret list point 5 ini. Hatiku gundah gulana, bertanya tanya dan masih berharap uang itu awet nginap di rekeningku. Tidak munafik sih aku sudah membuat beberapa planning yang akan aku lakukan pada uang nyasar tersebut.
Singkat cerita malampun tiba, aku melakukan pengecekan lagi rekeningku tujuan utamaku yaitu mau lihat apakah uang nyasar tersebut masih ada atau sudah Innalillahi…alis balik ke yang punya.

Aku Login ke www.bla bla.co.id, mengimput username dan password, terdapat beberapa item menu yang pastinya adalah “Cek Saldo”.
JREEEEENG…
Saldo anda 0 Rupiah.
Weeeew…aku tidak kaget sama sekali, aku langsung lihat transaksi terakhirku.

JREEEEENG

Transaksi terakhir anda PENARIKAN KEMBALI SALAH KIRIM DARI PAY…..PT BLA BLA

Aku saat itu antara sedih, senang dan nangis, sedih karena uang nyasar Cuma numpang lewat, senang karena hati ku terasa plong namun nangis karena liat saldo ku 0 Rupiah, kalian bayangin aja dia narik saldoku sampai ludess Rp.15.000,- pun tidak disisakannya. Sebenarnya jika seandainya uang tersebut masih nongkrong di rekeningku, maka aku sudah membuat rencana, pertama aku akan lihat siapa pengirim uang nyasar itu, kedua jika sudah tahu maka aku akan menghubungi pengirimnya, seandainya benar PT.bla bla ..maka aku nelfon pihak mereka mengkonfirmasi kepada mereka.

“Mbak…saya mantan karyawan PT. Bla bla…saya heran, kok  Payroll ( bagian yang bertugas mengurus penggajian karyawan) transfer uang sebesar Rp. 1.871.000,- ke nomor rekening saya?apa maksudnya?apakah suatu kesalahan?atau niat bagi-bagi rejeki natal dan tahun baru?” Begitulah kira-kira dialog ku pada mereka, itu yang kurencanakan. Namun dialog ini tak terjadi karena mereka duluan sadar dan juga secara diam-diam menarik kembali, mengirim tanpa permisi dan mengambil tanpa bunyi. Seharsnya bilang kek ke aku, “Saudari Lass…maaf, terjadi kesalahan di Payroll karena mentransfer ke rekening anda, jadi kami melakukan penarikan kembali. Mohon maaf atas kekeliruan kami.”Nah, jika seperti itu kan sama-sama nyaman, kalo secara diam-diam kesannya menyebalkan,masak rekening ku jadi tempat kesalahan dan memperbaiki kesalahan hanya sepihak. (Sedih sedikit ceritanya nih..).

Sekarang saldo aku yang awalnya gembung, kini kembali kempes karena kelaperan tak diisi isi, karena takut terblokir akupun mentransfer uang dari rekening teman sebagai saldo minimum. Aku juga cerita dengan temanku yang bertemu di Bank waktu itu, dia tertawa ngejek aku dan bilang, “Kenapa tak kau ambek je semue, kau ne baik betol jadi orang bla bla…” Namun aku hanya menjawab, “Aku tak mau mengambil sesuatu yang bukan milik ku, nanti aku yang celaka. Aku takut kalo tiba tiba berurusan dengan hukum bla..bla…”aku berlagak jadi orang yang taat hukum, memang kan harus taat hukum Tuhan dan hukum negara. ( Sambil benarin kerah baju sok bijak).

Nah, cerita nyata ini sebagai pembelajaran baik bagi ku juga mungkin barangkali reader juga pernah mengalami, walaupun sedikit konyol namun patut diingat bahwasanya tidak ada yang namanya “Rejeki Nomplok”, rejeki itu datang dari usaha dan doa, jika rejeki datang secara sendiri, spontan, mendadak, sumber tak jelas, maka jangan langsung senang, selidiki dulu sumbernya sebelum akhirnya nanti kamu yang akan menyesalinya. Aku bukannya sok suci, sok baik atau apalah namanya, tapi tetap saja sebagai manusia yang punya hati nurani dan juga tahu sedikit banyak hukum ketika di bangku kuliah aku mengetahui bahwa mengambil sesuatu yang tak jelas sumbernya tersebut adalah salah.


****kisah real)))...by me

Cerpen Tentang Lingkungan Hidup ( Stand by me Hutan), tema asap.

Stand by me "Hutan"
Aku tersenyum kecil melihat semburat surya menerpa dedaunan pohon akasia yang tumbuh berjejer di sepanjang jalan kota, dahan dahan rapuh mereka meliuk dipermainkan deru kendaraan yang lalu lalang. Daun daun kering bertebaran dan tak sempat beberapa jam sudah habis disapu bersih oleh petugas kebersihan berseragam kuning orange, ibu ibu berkerudung dengan topi daun lebar menutup wajah mereka. Senyum atau merengutkah mereka saat bekerja tidak terlihat karena terhalang oleh masker penutup mulut mereka. Di persimpangan play over beberapa polantas sedang bertugas, berdiri menertibkan lalu lintas meskipun di sana sudah ada lampu merah, kuning, hijau. Penjual koran, pengemis, penjual pernak pernik maupun pengamen serta penyebar pamplet sibuk pada aktivitas mereka. Bocah lelaki berwajah tirus, mata memelas, bibirnya kering bergetar, tangan terangkat mengulurkan menengadah mendekati para pengendara sepeda motor yang acuh tak acuh. Lampu kuning menyala, mereka yang sibuk pada mulanya kembali ke tepi jalan menunggu lampu merah berikutnya bekerja, petugas terlihat memacu sepeda motor ptrolinya mengejar pengendara yang nakal tanpa menggunakan helm. Kota yang sangat sibuk, meskipun kota ini bukan kota besar.

Aku merentangkan kedua tanganku, aku tantang silaunya matahari pagi ini. Pemandangan langit cerah, matahari menerpa kaca kaca mobil yang lalu lalang menyilaukan mata, persis tak terlihat beberapa bulan yang lalu tepatnya lebih kurang 3 bulan matahari tak kuasa menampakan diri. Warga harus menambah aksesoris ketika keluar rumah, pengendara sepeda motor, mobil maupun pejalan kaki harus mengenakan aksesoris yang sedang trend, yaitu masker. Lucu sekali ketika melihat pemandangan ini, seperti berada di konser Bigbang, dimana para personil boyband asal negeri ginseng itu menyukai masker dengan beragam stiker ataupun motif, namun kali ini beda kasus dimana bukan mengikut trend Bigbag namun suatu kebutuhan. Bukan sesuatu yang lucu, tetapi ini adalah suatu cara melindungi alat pernafasan dari kontak langsung menghirup gas beracun asap. Langit yang biasanya cerah,  terik, kini berwarna kelam kemerahan, jalanan kota terasa sulit membedakan siang atau malam, kendaraan tetap menyalakan lampunya. Ironis memang, di sudut jalan tak jarang terpampang spanduk ukuran cukup besar bertuliska "Melawan Asap" namun tak punya senjata.
Sangat jelas di benak ku kala itu, siaran berita di TV lokal maupun nasional tidak jarang lepas dari sorotan bencana tahunan negeri kami, istilah lelucon Negeri di atas awan dengan karikatur lucu pesawat dipakaikan masker. Korban korban penyakit pernafasan telah berjatuhan, sakit ringan, parah hingga meninggal dunia. Suatu kenyataan yang sungguh bukan isapan jempol belaka, mengapa hal serupa terjadi setiap tahun?mengapa tamu tak diundang berupa asap ini tak pernah ada solusi agar tidak berkunjung lagi di tiap tiap tahun?
Sesak dada melihat rumah sakit, puskemas dipenuhi penderita hispa yang mayoritas adalah anak anak dan balita. Tak kuasa melihat balita mungil hanya beberapa bulan melihat dunia harus merasakan sakit ketika bernafas melalui selang menjepit hidung, tatapan mata mereka yang tak berdosa ingin mengatakan pada orangtua mereka "Ibu,mengapa dadaku sesak sekali?ibu..apakah oksigen cuma ada di tabung sekecil ini?ibu..berapa banyak mengeluarkan uang untuk beli satu tabung oksigen ini?ibu, apakah tidak ke kedai berjualan seperti biasa?ibu...tadi aku lihat di luar gelap, kenapa aku tak pernah melihat matahari?.

Pembakaran hutan, ekploitasi besar besaran yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab, membabat habis hutan dengan menyulutkan korek api, menciftakan hantu si jago merah untuk menyantap habis hutan agar tersedia lahan subur. Menghukum para pelaku pembakar tidak akan membuat asap tak aka datang lagi, tepatnya hanya menimbulkan sebuah situasi tunjuk menunjuk pelaku, saling menyalahkan. Suatu pemandangan yang sangat disayangkan disetiap rapat umum atau apalah namanya tema melawan asap, debat saling menyalahkan, mencari pelaku dan berkoar koar sana sini yang membuat pelaku sebenarnya tertawa terbahak bahak menonton acara yang lebih lucu dari Stand Up Comedy.

Kesadaran pada setiap diri masyarakat untuk hidup berkelanjutan bersama sama menikmati udara segar, O2 yang masuk ke paru paru secara gratis tanpa ada ketakutan asap hadir di setiap tahun. Mengapa kita tak pernah sadar?bahkan jika dikatakan bodoh tidak juga, semua orang bahkan orang gila pun tahu bahwa menghirup asap itu tidak enak alias menyakitkan. Tapi, mengapa masih ada saja yang membakar lahan, hutan untuk kepentingan pribadi?lucu sekali ada sebuah komentar Áku bakar lahan ku sendiri,tak mengganggu lahan orang,setelah itu api padam. Apa tidak waraskah itu orang?dia apakah tidak tahu atau pura pura gila?asap sisa pembakaran itu menyebar diudara, mencemari oksigen yang tak lagi tercifta karena hutan telah lenyap. Satu orang membakar lahan, satu orang berpikir gila seperti di atas di sebuah desa, bayangkan jika ada 10 orang gila berpikir begitu?10 lahan terbakar?itu hanya di sebuah desa, lebih luas lagi kecamatan, kabupaten dan provinsi. Wah...sungguh kiamat kehabisan oksigen bisa saja terjadi, ujungnya orang yang tak punya uanglah yang kesusahan karena mahalnya harga oksigen di rumah sakit.

Stop pembakaran lahan, hutan. Stop membuka lahan dengan cara membakar. Sisakan hutan untuk anak cucu kita. Tunjukan pada mereka bahwa alam kita indah dan segar, katakan pada mereka bencana asap di tahun tahun dulu hanya kenangan hitam yang membuat kita lebih cerdas dan ramah pada lingkungan. Beri contoh pada mereka bahwa kita tak bisa hidup tanpa alam yang seimbang, katakan dengan lantang bahwa hutan adalah paru paru dunia. Ingatlah nenek moyang kita, mereka hidup di alam, berkawan dengan alam, bukan membuat alam menangis.

Kota yang bising, meskipun terik dan debu debu jalanan mencemari udara namun ini lebih baik dari asap beberapa bulan yang lalu. Warga tidak lagi harus repot membeli masker, mengenakan masker, para pelajar tidak harus lagi bermain dengan mulut terbungkus masker. Sekolah tidak mesti lagi meliburkan siswa terus menerus dan menimbulkan kekacauan pada jadwal kalender pendidikan perihal pelaksanaan ujian di sekolah sekolah. Biarlah kenangan memilukan Kota Kami di serbu asap menjadi kenganan pilu, yang terpenting bencana ini tak lagi mengganggu dan hutan bisa hidup tenang dan Tuhan tidak murka. 

BY Salasiah